Oleh : Hendra Wijaya
Ada kalanya sebuah pertunjukan seni tidak hanya menghibur, tetapi juga mengubah cara pandang kita terhadap budaya. Itulah yang saya rasakan saat menyaksikan pertunjukan Tari Singaperbangsa dalam Festival Tari di Panggung Terbuka Panatayuda, Sabtu (11 Juli 2026). Bagi saya, inilah salah satu sajian paling memikat karena menghadirkan keberanian dalam mengemas tradisi dengan pendekatan yang lebih segar dan komunikatif.
Garapan tersebut tidak sekadar menampilkan kekhasan anatomi gerak tari Karawang. Lebih dari itu, pertunjukan ini memadukan unsur tari dengan teaterikal sehingga sejarah tidak lagi terasa sebagai deretan peristiwa yang kaku, melainkan menjelma menjadi kisah yang hidup di atas panggung.
Melalui Tari Singaperbangsa, penonton diajak menyelami dinamika kepemimpinan Prabu Singaperbangsa, tokoh yang menerima mandat memimpin pemerintahan Karawang pada abad ke-17. Alur sejarah disampaikan melalui perpaduan koreografi, dramatik, dialog, musik, serta pendalaman karakter yang mampu membangun emosi penonton dari awal hingga akhir pertunjukan.
Saya menyebut pendekatan ini sebagai Tetra (Tari Teaterikal). Sebuah konsep yang menempatkan tari bukan sekadar rangkaian gerak yang indah dipandang, melainkan sebagai medium bertutur. Dalam konsep ini, setiap gerakan memiliki makna, setiap adegan menyampaikan pesan, dan setiap tokoh menghadirkan kembali ruh sejarah yang selama ini mungkin hanya kita kenal dari buku atau cerita lisan.
Salah satu kekuatan pertunjukan ini adalah kehadiran Apep Hudaya, seniman pedalangan yang kiprahnya telah dikenal hingga tingkat internasional. Melalui tokoh Cepot yang dibawakannya, suasana panggung menjadi lebih cair dan akrab. Cepot hadir bukan hanya sebagai penyegar suasana, tetapi juga sebagai jembatan komunikasi yang mampu menyampaikan nilai-nilai budaya dengan bahasa yang ringan, jenaka, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Keberhasilan pertunjukan ini tampak dari respons penonton. Ribuan pasang mata, terutama dari kalangan generasi muda, terlihat larut mengikuti setiap adegan. Mereka tertawa bersama Cepot, terdiam saat konflik mencapai puncaknya, lalu menutup pertunjukan dengan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi. Pemandangan seperti ini menunjukkan bahwa sejarah dan budaya sejatinya masih memiliki daya tarik yang kuat, asalkan disampaikan dengan pendekatan yang relevan.
Apresiasi juga layak diberikan kepada LSM Lodaya yang terus menunjukkan konsistensinya dalam merawat sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal. Melalui karya seperti ini, mereka membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus terpaku pada bentuk-bentuk konvensional. Inovasi justru dapat menjadi jalan agar tradisi tetap hidup tanpa kehilangan identitasnya.
Saya berharap konsep Tetra tidak berhenti sebagai sebuah eksperimen artistik di panggung festival. Gagasan ini memiliki potensi menjadi salah satu wajah baru seni pertunjukan Karawang, yang memadukan tari, teater, sejarah, dan nilai-nilai budaya dalam satu kesatuan yang utuh. Dengan pendekatan seperti ini, seni pertunjukan bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana pendidikan, refleksi, dan penguatan identitas budaya.
Pada akhirnya, ketika sejarah dipentaskan secara kreatif dan menyentuh emosi, budaya tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu. Ia akan terus hidup, dipahami, dan dicintai oleh generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.
Penulis adalah Penggiat Seni dan Budaya

.jpg)
