Iklan

Iklan

Di Tengah Semangat Efisiensi, Kirab Binokasih Justru Dinilai Berlebihan

BERITA PEMBARUAN
10 Mei 2026, 13:16 WIB Last Updated 2026-05-10T06:24:45Z
H. Elyasa Budianto, S.H., M.H.(foto: rm)


KARAWANG - Kabupaten Karawang menjadi salah satu daerah yang terpilih menggelar Kirab Mahkota Binokasih, sebuah agenda budaya yang dikemas meriah dengan penampilan seni dan budaya dari 27 kota/kabupaten se-Jawa Barat.


Namun, di balik kemeriahan tersebut, kegiatan kirab justru menuai kritik dari aktivis sekaligus pengacara senior Karawang, H. Elyasa Budianto. 


Ia menilai pelaksanaan kirab budaya itu kontradiktif dengan semangat efisiensi anggaran yang selama ini digaungkan pemerintah.


Menurut Elyasa, pemerintah kerap meminta berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara perpisahan sekolah, dilaksanakan secara sederhana dan tidak berlebihan. Akan tetapi, di sisi lain pemerintah provinsi justru menggelar kegiatan kirab budaya secara besar-besaran di berbagai daerah.


“Gubernur itu jangan memaksakan keinginannya dalam memimpin. Tapi harus berdasarkan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Apakah manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat dengan adanya kirab? Sedangkan infrastruktur dan gedung sekolah masih banyak yang harus dibenahi,” ujar Elyasa melalui sambungan WhatsApp nya, Minggu 10 Mei 2026.


Ia juga mempertanyakan besaran anggaran yang dikeluarkan dalam setiap pelaksanaan kirab serta sumber pendanaannya.


“Sekali lagi tolonglah gubernur itu jangan memaksakan keinginan pribadinya untuk membuat acara gebyar tersebut. Banyak aturan yang terkesan berdasarkan keinginan pribadi dan ujung-ujungnya juga tidak jelas hasilnya, seperti siswa masuk barak, jam malam, dan larangan siswa membawa kendaraan bermotor ke sekolah. Mana hasilnya?” tandasnya.


Lebih lanjut, Elyasa mengaku mendengar informasi bahwa pembiayaan kirab budaya tersebut bukan berasal dari APBD. Hal itu justru, menurutnya, menimbulkan tanda tanya baru terkait asal-usul pendanaan kegiatan.


“Sementara ini ada kabar katanya biaya kirab itu bukan dari APBD, tapi di luar APBD. Nah ini malah meragukan dari mana anggaran sebesar itu? Jangan-jangan dari oligarki? Waduh, tambah berisiko kalau dari oligarki,” pungkasnya.


Sebagai informasi, Kirab Mahkota Binokasih berlangsung dengan iring-iringan seni dan budaya Sunda yang menampilkan pakaian adat, tabuhan kendang, alunan angklung, hingga berbagai pertunjukan tradisional. Kegiatan tersebut dipastikan menyedot perhatian masyarakat yang memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan kemeriahan budaya khas Jawa Barat itu.(**)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Di Tengah Semangat Efisiensi, Kirab Binokasih Justru Dinilai Berlebihan

Terkini

Topik Populer

Iklan