BARABAI- Wadai cincin, merupakan jajanan khas masyarakat Kalimantan Selatan, sangat mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Wadai (kue) berbahan dasar tepung, garam dan gula merah tersebut, kini tak hanya tersedia di pasar dan warung-warung kopi.
Saat ini Wadai tersebut mudah ditemukan di pinggir jalan Trans Kalimantan, Desa Maringgit Ilung Kecamatan Batang Alai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 7 kilometer dari Kota Barabai Kalimantan Selatan.
Kampung tersebut, kini menjadi 'kampung cincin'. Hampir semua warganya menjadi perajin kue cincin. Kue tradisonal tersebut langsung dipasarkan sendiri di tepi jalan nasional. Di situ banyak stand atau lapak penjual makanan kue cincin yang menjadi ciri khas oleh-oleh warga Kalimantan Selatan
Dikatakan salah seorang pedagang Wadai (kue) Cincin Mama Habibah, ia sudah dua tahun ini berjualan kuliner khas Kalsel ini, buka pukul 07.00 hingga pukul 18.00 WITA.Wadai Cicin tersebut terbuat dari tepung beras dan gula aren dengan harga yang sangat terjangkau berbagai kalangan.
"Harga jual satu paket kotak mika seharga Rp.10 ribu dengan isi 20 biji," ujar Habibah.
Dituturkan Habibah, bahwa dirinya mempunyai keahlian membuat wadai (kue) cincin tersebut didapat dari orang tuanya secara turun temurun berdagang kue. Juga karena lingkungan yang mayoritas hampir se kecamatan di situ pembuat sekaligus pedagang Wadai Cincin.
"Wadai Cincin Barabai sendiri sudah tahabar (populer) ke mana-mana.
Selain itu makanan khas lainya seperti wadai apam, dan pakasam," tutur ibu lima anak ini.
Saat ditanya apa ada kelompok khusus atau koperasi yang mewadahi para pedagang wadai di sini, Habibah menjawab tidak ada, kami berdagang secara mandiri
Sementara untuk pengunjung yang berbelanja Wadai lanjut Habibah, rata-rata dari luar kota Barabai, umumnya warga Banjarmasin, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur yang biasa lewat atau berkunjung ke wilayah Barabai
Untuk omset kata Habibah, saat ini turun drastis. Sebelum ada corona, ramai sekali, selain yang datang ke lapak tempat jualan juga kadang pesan lewat online (WhatsApp)
"Dulu bisa habis 10 kg bahan atau kurang lebih 1-1,5 juta perhari omsetnya," ucapnya kepada berita pembaruan.com, Selasa (1/9/20).
Namun masih kata Habibah, semenjak corona, paling habis adonan 2-3 kilogram saja. Kisaran pendapatan Rp. 200-300 ribu, itu pun pada hari-hari libur. Dan para pembeli tidak berkunjung ke lapak itu karena ketakutan terhadap covid-19.
"Pembeli tidak mau ke lapak, karena dagangannya sudah dijapai (dipegang) orang, takut kena Corona. Makanya saya sekarang jualan online," ungkapnya.
Sementara menurut Rustam (46) pembeli yang berasal dari Banjar, sengaja mampir setelah jalan-jalan dari tempat wisata di Barabai, hanya untuk membeli wadai cincin buat oleh-oleh keluarga di rumah dan tetangga.
"Saya sering beli wadai(kue) cincin ke sini selain rasanya enak juga murah dan wadai di Barabai paling enak dan terkenal," kata Rustam.(Ron)