![]() |
| Nining Elitos (foto: ist) |
BEKASI – Kasus yang menimpa aktivis Andri Yunus menuai kecaman dari berbagai pihak. Koordinator Dewan Buruh Nasional KASBI, Nining Elitos, menyatakan sikap tegas dengan mengecam tindakan anti kritik yang dinilai mengancam kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi di Indonesia.
Dalam wawancara di Kabupaten Bekasi, Rabu (1/4/2026), Nining menegaskan bahwa kritik merupakan fondasi penting dalam pembangunan negara. Ia menilai, upaya membungkam suara kritis justru mencerminkan kemunduran dalam praktik demokrasi.
“Negara tidak akan pernah maju jika kritik dianggap sebagai ancaman. Justru dari kritik dan masukan masyarakat, arah kebijakan bisa diperbaiki,” ujarnya.
Ia pun mendesak seluruh pihak untuk menghentikan tindakan represif terhadap kritik serta membuka ruang dialog yang sehat, transparan, dan partisipatif.
Terkait kasus yang menimpa Andri, Nining menekankan pentingnya penegakan hukum yang adil dan tanpa kompromi. Ia meminta agar para pelaku, termasuk aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, diungkap secara terang dan diproses secara terbuka.
“Keterbukaan adalah kunci agar tidak ada impunitas dalam penegakan hukum,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nining menolak jika proses hukum dilakukan melalui peradilan militer. Menurutnya, kasus tersebut harus dibawa ke ranah peradilan umum guna menjamin transparansi dan akuntabilitas.
“Penegakan hukum harus berpihak pada keadilan, bukan melindungi kekuasaan. Tidak boleh ada ruang gelap dalam proses ini,” tambahnya.
Bagi Nining, sosok Andri Yunus bukan sekadar individu, melainkan representasi anak muda yang berani menyuarakan aspirasi. Ia menilai Andri sebagai figur kritis yang konsisten mengawal kebijakan publik, terutama yang menyangkut kepentingan masyarakat kecil.
Karena itu, bersama KASBI, ia menyerukan keadilan bagi Andri sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas dalam menjaga kebebasan berekspresi di Indonesia.
Di akhir pernyataannya, Nining juga mengajak kaum buruh untuk tetap teguh dalam memperjuangkan hak dan keadilan, tanpa takut terhadap tekanan.
“Kaum buruh harus tetap bersuara. Perjuangan keadilan tidak boleh berhenti hanya karena ada upaya pembungkaman,” pungkasnya.(Raditya)


